catchment-areaMomentum Hari Air Sedunia dimanfaatkan beberapa lembaga untuk mengusung isu tentang krisis air. Jawa Pos, Selasa 24 Maret Menyebutkan “Dalam peringatan World Water Day tahun ini, PBB mengusung tema transboundary waters, shared water, shared oportunities“. Sedemikian parahkah, sampai-sampai terkesan air sulit untuk didapatkan?. Bukankah 2/3 bumi kita ini terdiri dari air?  Lalu kenapa sampai terjadi krisis air?

Kualitas air

Permasalah air yang terjadi selama ini adalah menurunnya kualitas air untuk kebutuhan hidup manusia. Dalam Effendi 2003, menyebutkan bahwa kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain dalam air. Kualitas air dinyatakan dalam beberapa parameter, yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi. Dari parameter-parameter tersebut kemudian di dapat ditentukan golongan air menurut peruntukannya. Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990, membagi golongan air menurut peruntukannya menjadi 4;

1. Golongan A, Yaitu air dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.

2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. Artinya dianjurkan untuk dimasak terlebih dahulu.

3. Golongan C, Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan

4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air.

Siklus Hidrologi

Secara kuantitas, air di bumi ini tidak berkurang. Bahkan air sangat melimpah-ruah. Secara teori air menutupi hampir 70 persen permukaan bumi, bahkan di Indonesia wilayhnya terdiri dari 2/3 air. Senyawa kimia ini terdapat dalam berbagai bentuk tentunya, misalnya uap air, es, cairan dan salju.

Berdasarkan jenisnya, air terbagi menjadi 2 yaitu air tawar dan air asin (laut). Air tawar terdapat dalam daratan yang tertampung dalam badan-badan air seperti sungai, danau, air tanah, dan gunung es. Sedangkan air asin biasanya terdapat dilautan. Selain itu di atmosfer (udara) terdapat juga air dalam bentuk uap air. Jika dilihat secara keseluruhan ruang tersebut (daratan, laut, dan atmosfer) akan bisa terlihat siklus hidrologi / siklus air / perputaran air yang berlangsung secara kontinyu. Secara sederhana, siklus atau perputaran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut;

Air daratan, mengalir ke laut melalui arus run off / menggelontor diatas permukaan dan meresap melalui tanah (air tanah). Yang tersimpan dalam badan air dan organisme, makhluk hidup menguap ke atmosfer, begitu juga dengan air yang berada di lautan. Jika uap air ini berkumpul dalam satu lokasi di atmosfer (yang sering kita lihat ketika mendung), ada kemungkinan akan terjadi hujan. Artinya air kembali lagi ke bumi (baik ke daratan maupun laut). Jadi secara secara fisik air tidak akan berkurang di bumi ini.

Krisis air

Kondisi permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini adalah; kuantitas yang cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Artinya bukan kuantitas airnya, akan tetapi kuantitas air yang digunakan untuk keperluan domestik yang berkurang. Kualitas air yang layak pun semakin langka di dapatkan. populasi manusia yang terus meningkat, dan sumberdaya alam yang terbatas sehingga ruang hidup (nice) juga semakin berkurang. Dampak dari kondisi ini terhadap sumberdaya air sangat signifikan. Jika lahan, yang menjadi penyimpan air di bumi ini di hambat oleh kegiatan manusia maka otomatis siklus air akan sangat cepat berlangsung. belum lagi di tambah dengan pencemaran yang semakin hari semakin meningkat bebannya.

Mungkin dahulu manusia sangat mudah mendapatkan air untukkebutuhan mereka. selain populasi yang masih sedikit, sumber-sumber air juga masih banyak. Tapi sekarang semua itu sebagian besar telah di sulap menjadi bangunan yang megah.

Meningkatnya populasi manusia memang menjadikan sumberdaya alam di bumi ini menjadi terbatas. Sehingga jika sudah mencapai puncaknya nanti, akan ada seleksi alam terhadap populasi manusia itu sendiri.

Yang dapat kita lakukan adalah memperlambat proses itu. Memanfaatkan sumberdaya sesuai dengan batas kebutuhan, bukan hanya mengejar keinginan atau nafsu belaka. Berkelanjutan dalam artian memenuhi kebutuhan tanpa menghilangkan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. selain menghemat, tentunya hal yang tidak kalah pentingya adalah menjaga sumber-sumber air. Kehancuran itu pasti akan terjadi di dunia ini, kita tidak dapa mencegah melainkan hanya bisa memperlambat proses kehancuran itu sendiri.

harapannya kita dapat menggunakan sumberdaya alam khususnya air secara bijak dan bertanggung jawab. Bukan hanya untuk kita tapi untuk kemaslahatan umat manusia dari generasi ke generasi.

 

Kasepuhan Cisitu merupakan salah satu masyarakat adat yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Halimun Salak. Secara administrasi kasepuhan ini terdapat di desa Situ Mulya kecamatan Cibeber kabupaten Lebak Banten. Pekerjaan utama masyarakat di desa ini adalah bertani dan pekerjaan lainnya meliputi tambang emas ilegal, penjahit, pedagang (warung), guru, dan ada beberapa yang berprofesi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Menurut bapak Harto (BPD desa situ mulya) dari 715 kepala keluarga yang ada, sekitar 410 kepala keluarga termasuk dalam daftar Rtm (rumah tangga miskin). Penilaian Rtm ini didasarkan pada jumlah anggota keluarga, pekerjaan, kepemilikan tanah, pendidikan, dan kondisi rumah. Untuk menurunkan angka Rtm ini, pihak desa mempunyai program kerja diantaranya; program air bersih, irigasi, penambahan unit sekolah (saat ini ada 4 unit sekolah yang berlokasi di desa ciater dan desa situ mulya). Lahan untuk pertanian di Desa Situ Mulya kurang lebih seluas 700 Ha dengan status 25% hak milik (kurang lebih 207 Ha) dan sisanya merupakan lahan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Perangkat desa Situ Mulya

Kepala Desa                                                    : Bpk. Lili

BPD / Badan Perwakilan Desa                         : Bpk. Harto

Sekretaris Desa / Sekdes                                  : Bpk. Jajang

Kaur Pemerintahan                                           : Bpk. Ruhanda

Kaur Kesra                                                      : Bpk. Suharden

LPM / Lembaga Pemberdayaan Masyarakat     : Bpk. Andak

 

Job discription per bidang;

Kepala Desa              : pemimpin tertinggi pemerintahan Desa Situ Mulya

BPD                            : wakil masyarakat yang mengawasi jalannya pemerintahan desa

Sekdes                        : mengatur segala administrasi desa Situ Mulya

Kaur Pemerintahan : bertanggung jawab atas segala urusan yang terkait dengan pemerintahan Desa Situ Mulya.

Kaur Kesra                : bertanggung Jawab atas kesejahteraan masyarakat dan segala kepentingan yang menyangkut kesejahteraan masyarakat

LPM                           : bertugas dalam bidang pemberdayaan masyarakat seperti; gotong royong, pelatihan, pembangunan infrasruktur, dan lain-lain.

 

Tentang Kasepuhan dan aturan bertani

Kasepuhan Cisitu dipimpin oleh seorang ketua adat yaitu Abah Marja / olot Marja. Jabatan ketua adat ini bersifat turun temurun. Artinya abah marja mendapat jabatan ketua adat dari ayahnya dan masa jabatan seumur hidup. Saat ini kasepuhan cisitu membawahi 2 desa yaitu Desa Situ Mulya dengan ketua adat Abah Marja dibantu oleh Abah Ata dan Desa Kujang Sari dengan ketua adat Abah Haji Okri dan dibantu oleh Abah Njam. walaupun dibagi dua wilayah kekuasaan, semua keputusan adat tunduk pada Abah Marja.

Menurut Abah Marja, rata-rata masyarakat kasepuhan Cisitu memulai bertani setelah menikah. Biasanya pasangan suami istri mendapat lahan / tanah dari ayahnya (kalo ada) atau menggarap lahan tanah orang untuk ditanami padi. Selama ini menanam padi merupakan tradisi turun-temurun dari dahulu. Mereka berpendapat bahwa dengan menanam padi kehidupan akan sejahtera. Oleh karena itu menanam padi merupakan suatu kewajiban bagi warga Cisitu. Di kasepuhan cisitu masyarakat boleh menjual sebagian beras mereka. Hal ini agak berbeda dengan masyarakat di Ciptagelar yang tidak boleh menjual beras mereka. Menurut Abah Marja, masyarakat menjual beras untuk ditukarkan dengan lauk pauk dan atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Akan tetapi mereka tidak boleh menjual seluruh padi yang dipunyainya.  

Dalam bertani, ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh semua warga Cisitu. Pertama bahwa waktu menanam padi harus serentak dan dimulai atas perintah dari Abah Marja. Padi yang ditanam adalah padi lokal hasil pembibitan sendiri. Kata Abah pernah warga menanam padi unggul dari pemerintah akan tetapi hasilnya kurang memuaskan. Kata beliau hanya padi lokal yang cocok di daerah ini. Untuk pemupukan menggunakan pupuk kandang dan  hanya satu tahun sekali menggunakan pupuk pabrik. Biasanya pemupukan dilakukan di tanah yang paling tinggi dan untuk tanah yang lebih rendah tidak dilakukan pemupukan. Hal ini dikarenakan pupuk akan mengalir bersama air apabila dialirkan ke sawah bagian bawah. Hari jum’at dan hari minggu tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan di sawah atau bertani. Menurut Abah Marja, hal ini sudah menjadi aturan dari jaman baheula (jaman dulu), dimana hari juma’at biasanya orang-orang harus pergi ke masjid pada siang hari untuk sholat Jum’at dan pada hari minggu digunakan untuk beristirahat, mengurus anak, dan lain-lain.

Cara panen padi masih sangat sederhana. Padi diangkut dari sawah dengan bentuk pocongan (iketan) dimana satu pocong kurang lebih 3,5 Kg. setelah sampai dirumah pocongan padi tersebut di jemur di pinggir jalan sampai kering. Kata penduduk sekitar lama waktu menjemur padi tersebut kalau musim kemarau bisa berbulan-bulan. Setelah di kering padi disimpan kedalam sebuah gubuk yang sering disebut masyarakat sekitar sebagai Leuit / lumbung padi. Setiap rumah harus mempunyai Leuit (lumbung padi) untuk menyimpan hasil panennya. Panen padi rata-rata 1-2 kali panen dalam satu tahun tapi kebanyakan hanya satu tahun sekali. Poduksi padi kasepuhan Cisitu pada tahun 2007 ini mencapai 174.520 pocong atau sekitar 610.820 Kg (1 pocong = 3,5 Kg).

Untuk memperingati panen tiap tahunnya diadakan upacara seren taun yaitu upacara yang diadakan sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa atas hasil panen. Seren taun diadakan setiap hari jum’at pertama pada bulan muharam. Banyak hiburan pada saat seren taun ini, ada yang berpendapat bahwa seren taun merupakan pestanya petani. Bahkan acara ini menjadi wisata tersendiri bagi orang diluar kasepuhan.

Selain menanam padi beberapa masyarakat juga memelihara ikan di kolam. Tujuan memelihara ikan inipun bukan untuk produksi / ternak melainkan untuk konsumsi sendiri. “kasepuhan ini dinamakan Cisitu karena di belakang rumah Abah ada Danau/Situ” kata Yuniar salah satu anak dari Abah Marja.

 

Keterlibatan perempuan dalam bidang pertanian

Sebagian besar perempuan yang sudah menikah membantu suami mereka bertani. Waktu ke sawah setiap hari rata-rata antara jam 06.00 – 16.00 WIB dan waktu tempuh ke sawah kira-kira 4 jam pulang-pergi.

The world under the earth

“MELIRIK” KEMBALI SAMPAH DI DANAU

Stigma yang berkembang tentang sampah di masyarakat sebatas pada sesuatu yang harus dibuang. Padahal sampah-sampah yang banyak dihasilkan masyarakat dewasa ini bukan lagi sekedar sampah organik yang dapat dengan cepat terurai dan dapat dimanfaatkan sebagai penyubur tanah. Sampah-samapah yang banyak dihasilkan masyarakat saat ini adalah sampah-sampah anorganik yang butuh waktu puluhan, ratusan bahkan miliaran tahun untuk dapat terurai. Masalah yang kemudian timbul bukan hanya seputar masalah estetika dan pencemaran, namun banyak masalah lain yang lebih kompleks dan terkadang menimbulkan dilema tersendiri.

Institut Pertanian Bogor telah terkenal dengan sebutan “kampus hijau”, hijau yang berarti pertanian atau pun hijau dapat berarti pula lingkungan hidup. Pada 25 Juli 2006 Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah menyatakan berencana menjadi pionir dalam gerakan memanfaatkan sampah perkotaan. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup – Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPLH – LPPM) IPB, Prof.Dr.Ir. Dedi Soedharma, DEA di sela-sela Lokakarya Pengelolaan Sampah Perkotaan Berbasis Masyarakat yang digelar oleh PPLH-LPPM IPB, di Gedung MMA IPB Jln. Pajajaran , “Sudah tidak tepat lagi memandang sampah sebagai limbah, sehingga harus disingkirkan jauh-jauh dari kota. Sampah harus dipandang dan diperlakukan sebagai sumber kesejahteraan ekonomi, baik bagi Pemda maupun masyarakat. Sebab, sampah dapat didaur ulang untuk digunakan kembali, dijadikan pupuk organik dan dijadikan bio energy ”.

Gambar 1 sampah anorganik di danau LSI yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dan air danau yang tercemar minyak; gambar 2 saluran pembuangan kantin makjan langsung ke danau

Kemudian pada tanggal 5 Juni 2007 Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut Pertanian Bogor (Lawalata-IPB) melakukan aksi bersih-bersih di Danau Situ Leutik (Danau LSI) Kampus IPB Darmaga. Beberapa jam setelah aksi dimulai, sampah yang terkumpul sudah mencapai enam trash bag. Jenis sampah terbanyak berupa sampah plastik yang membutuhkan waktu sekitar 100 tahun untuk dapat terurai. Didapati pula sampah Styrofoam yang proses penguraiannya lebih lama, yakni sekitar satu miliar tahun. Air danau juga sudah tercemar polusi berupa minyak goreng.

Setahun lebih sudah telah berlalu dari lokakarya tersebut namun ironoisnya justru di kampus hijau itu sendiri persoalan sampah justru tidak tertangani dengan baik. Bukan hanya disekitar danau tapi coba lihat disekitar gedung kuliah dan banyak tempat disekitar kampus, sampah tidak tertangani dengan baik. Tidak sampai menggunung hingga membanjiri Bogor seperti pernah terjadi di Bandung beberapa waktu silam memang, tetapi cukup untuk mempertanyakan kemanakah rencana IPB sebagai pionir dalam gerakan memanfaatkan sampah perkotaan?

Warung tersebut berdiri satu tahun lalu di jalur Salak I- Kawah Ratu. Pemiliknya adalah seorang bapak yang bernama Sali. Pak Sali mendirikan warung tersebut karena banyak pendaki yang tersesat di jalur sehingga pak Sali berinisiatif mendirikan warung sekaligus menjadi penunjuk jalan bagi para pendaki. Menariknya warung tersebut memiliki lampu listrik bukan lampu tempel atau lentera minyak tanah padahal di daerah tersebut tidak ada saluran listrik. Lampu listrik itu tentunya membutuhkan sumber tegangan, sumbernya adalah generator listrik tenaga air yang ada di sungai kecil dekat warung tersebut.

Generator listrik itu hasil kreasi Pak Sali sendiri. Ia mengaku membuatnya dari mesin motor bekas yang dibelinya di Kebon Jahe, Bogor. Idenya berawal dari sebuah pemikiran “kalau mesin motor bisa hidup dengan menggunakan bensin , kenapa tidak mencoba pakai air?”. Tentunya bukan maksud pak Sali untuk mengganti bahan bakar bensin dengan air, namun bagaimana menggerakkan mesin tersebut dengan tenaga air. Pak Sali pun berkreasi dengan mesin motor tersebut. Untuk dapat menghidupkan mesin motor tersebut, Pak Sali mengalirkan air menggunakan pipa paralon yang dipotong melintang dan di sambung-sambungkan , kemudian air tersebut menggerakkan baling-baling yang berhubungan dengan mesin motor. Hasilnya mesin motor tersebut dapat menghasilkan listrik yang dapat dipakai menghidupkan lampu listrik warung pak Sali. “Nanti juga saya mau bawa TV kesini…….” Ujarnya seraya tersenyum.

Generator listrik pak Sali adalah contoh langka dari pemanfaatan barang bekas yang tadinya tidak berharga menjadi alat yang berdaya guna tinggi. Ia hanya butuh kerja keras dan kreativitas serta keuletan. Seperti Pak Sali dan generator listriknya. Pak Sali bukanlah seorang berpendidikan tinggi, ia hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar namun dapat menciptakan karya yang luar biasa. Lalu, bagaimana dengan kita?

(Petualangan di Kawah Ratu dan menikmati panorama Curug Seribu)

 

Bagi mahasiswa IPB akhir pekan merupakan saat untuk bersantai dan melupakan tugas-tugas kuliah yang menjadi rutinitas sehari-hari. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk pulang kerumah bagi mahasiswa yang berada di wilayah jabodetabek. Namun LAWALATA-IPB menikmati akhir pekan dengan berpetualang di alam. Selain ”refresing” kita juga melatih tehnik hidup alam bebas (THAB) untuk meningkatkan skill anggota.

Pada tanggal 15 – 17 Desember 2006 kemarin LAWALATA-IPB mengadakan acara ”Kemping Bareng LAWALATA-IPB” di bumi perkemahan (Buper) Wana Wisata Curug Seribu. Perkemahan ini diikuti kurang lebih 26 mahasiswa IPB dari berbagai Fakultas dan para alumni IPB. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara mahasiswa dengan alumni dan kebersamaan diantara mahasiswa IPB.

Dalam kesempatan ini LAWALATA-IPB juga memperkenalkan THAB dan cara berpetualang yang aman di alam bebas. Materi-materi yang diberikan diantaranya jungle survival, navigasi darat, dan cara mengatasi berbagai permasalahan yang sering tejadi dalam bidang petualangan. Peserta dibagi kedalam 5 kelompok yang terdiri dari berbagai fakultas dan dibekali peralatan untuk keperluan dilapangan. ”Selain mempererat hubungan antar mahasiswa acara ini juga memperkenalkan mahasiswa IPB tentang THAB untuk meminimalisasi kecelakaan di alam bebas” kata ketua LAWALATA Gian gardian L-251.

Hari jum’at 15/12 pukul 21.00 WIB kami berangkat dari kampus dan sampai di lokasi pukul 23.00 WIB. Sampai disana peserta dan panitia mendirikan dome/tenda dan memasak sesuai dengan kelompoknya masing-masing, setelah itu istirahat. Pagi harinya (sabtu 16/12) sekitar pukul 08.00 WIB peserta diajak tracking ke kawah ratu. Selama tracking, peserta harus melalui pos-pos materi yang dibuat oleh panitia. Pos pertama yaitu ”pos teka-teki”, dimana peserta harus menjawab pertanyaan dari panitia tentang permasalahan-permasalahan yang sering terjadi di alam. Pos kedua (Pos jungle survival), peserta diperkenalkan sumber makanan dari alam, cara membuat api, dan cara membuat bivouck/ tempat berlindung. Pos ketiga (Pos navigasi darat), peserta dikenalkan cara pengunaan alat navigasi (peta, kompas), orientasi medan, menentukan arah perjalanan, dan menentukan posisi medan di lapangan. Setelah praktek navigasi darat peserta diberi waktu untuk bersantai di kawah ratu dan foto bersama. Sekitar pukul 15.30 WIB seluruh peserta kembali menuju buper. Walaupun hujan, peserta tampak menikmati perjalanan ke buper. Sampai di buper kurang lebih pukul 17.30 WIB para peserta membersihkan diri dan memasak.

Malam harinya, diadakan acara ngariung bareng dan api unggun. Ditengah kehangatan api unggun, kami mengadakan acara evaluasi tentang kegiatan tadi siang. Seusai evaluasi, acara selanjutnya bebas. Ada yang langsung tidur, ada yang memasak, serta ada pula yang bercanda sambil bernyanyi mengelilingi api unggun. Seakan-akan rasa lelah hilang begitu saja. Kira-kira pukul 01.00 dini hari (minggu 17/12) kami dikejutkan dengan kedatangan para alumni IPB yang berjumlah kurang lebih 20 orang. Lalu kami beramah tamah dengan alumni. Dalam kesempatan ini kami banyak berdiskusi dengan alumni sampai menjelang pagi. Lalu kami tidur ke tenda/dome kelompok masing-masing.

Pagi hari sekitar pukul 06.00 (minggu 17/12) peserta, panitia dan para alumni diajak untuk menikmati pemandangan Curug Seribu. Kita melakukan olah raga pagi sebelum melakukan perjalanan. Perjalanan menuju kelokasi Curug Seribu sekitar setengah jam dengan medan yang sedikit menantang. Namun demikian baik peserta maupun alumni tidak ada yang mengeluh dan bahkan menikmati perjalanan. Sesampainya di lokasi kebanyakan peserta mandi dikolam yang letaknya dekat dengan curug. Tampak keceriaan diwajah peserta pada saat itu. Ada juga yang tidak mandi, hanya sekedar berfoto-foto dan ngobrol di atas bebatuan. Kurang lebih satu jam disana, keceriaan tersebut terhenti oleh cuaca mendung. Dengan berbagai pertimbangan kahirnya panitia mengajak para peserta dan alumni untuk kembali ke buper. Perjalanan kembali kebuper memakan waktu kurang lebih satu jam. Hal ini dikarenakan medan yang dilalui hanya satu jalur. Selain menanjak ramainya pengunjung pada hari itu juga memperlambat perjalanan. Setelah istirahat sejenak dan makan bersama, lalu kami bersiap-siap untuk kembali ke kampus dan sampai di kampus sekitar pukul 16.30 WIB.

 

Kawah Ratu copyTaman Nasional Gunung Halimun-Salak mejadi pilihan bagi kami untuk berlatih dan meningkatkan pengetahuan Ke-Pecintaalaman. Selain itu beberapa lokasi di Taman Nasional yang memperluas wilayahnya pada tahun 2003 ini, dapat menghilangkan penat kami setelah 5 hari otak kami di jejali dengan bermacam rumus dan teori di bangku kuliah. Selain lokasinya yang dekat dengan kampus IPB Darmaga, tipe medan yang bervariatif menjadi alasan utama kita untuk mempraktekkan Tehnik Hidup Alam Bebas.
Pengunungan Halimun relatif landai namun banyak pilihan jalur serta pemandangan yang indah. Dari Nanggung kita dapat melihat perkebunan teh milik PT. Nirmalasari, hamparan sawah yang menghiasi perbukitan, perkampungan/ kasepuhan banten kidul, serta sensasi hutan hujan tropis yang selalu lembab. Sedangkan Gunung Salak 1 dan Salak 2 bermedan terjal, menantang, dan berhutan lebat. Karenanya kami rasa kedua kawasan ini cocok untuk latihan tracking, survival, Search And Rescue (SAR), Navigasi Darat, dan pengamatan flora fauna.

Selain medan dan pemandangan, yang juga menarik perhatian kami adalah masyarakat di dalam (enclave) dan sekitar kawasan ini. Konon mereka telah menetap di hutan sejak dahulu kala. Terlihat bermacam-macam aktifitas masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam. Sudah sewajarnya kalo tingkat ketergantungan pada hutan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat menggelola sumberdaya alam yang ada di sekitar hutan.

Di beberapa lokasi / tempat kami berkegiatan dekat dengan perkampungan. Di kampung Tapos Desa Sukaharja misalnya, penduduk memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami berbagai tanaman seperti sayuran, nanas, palawija, padi, dan lain-lain. Komoditas utama wilayah di kecamatan Cijeruk Bogor ini adalah nanas. Hasil tanaman dijual / dipasarkan di bogor tepatnya di sekitar pasar bogor-jalan dekat swalayan ramayana. mereka mengangkut hasil tanam untuk dipasarkan pada pagi hari. Untuk memperlancar kegiatan penanaman dan distribusi hasil serta demi kemajuan petani maka dibentuk kelompok tani. Setiap ada masalah dipecahkan secara musyawarah lewat pertemuan kelompok tani. Bahkan kelompok tani ini membuat aturan mengenai penanaman, penjualan hasil tanam, dan pemanfaatan sumberdaya hutan (seperti menebang kayu dan berburu satwa).

Selain tapos kami juga bermain di Kampung Cicalobak Sukamantri. lain halnya dengan Tapos komoditas utama kampung ini adalah Poh-pohan (biasanya buat lalapan / sayur semacam bayam). Selain bertani mereka juga berternak ayam. terlihat oleh kami peternakan ayam yang selalu kita lewati setiap menuju ke hutan. Menurut seorang warga mereka menggunakan pupuk kandang dari peternakan tersebut. Di perkebunan yang dikelola masyarakat kami melihat banyak kayu afrika. kami menduga bahwa telah terjadi infasi kayu afrika di sekitar hutan ini. menurut salah seorang penduduk kayu afrika memang awalnya ditanam. memang berbeda dengan kampung tapos dimana perkebunan di kampung ini banyak ditanami pohon. hal ini dikarenakan untuk melindungi poh-pohan mereka. Kata Bpk. Odi poh-pohan butuh tempat teduh untuk tumbuh. berbeda dengan nanas yang membutuhkan ruang terbuka untuk tumbuh. Dekat dari desa ini, ada sungai Citiis dimana kami melihat sebagian masyarakat yang menambang pasir. pasir yang mereka kumpulkan diangkut dengan truk oleh penadah pasir untuk dipasarkan.

Hasil pengamatan kami, penduduk kampung ini mayoritas tidak mempunyai lahan sendiri dan mengolah tanah milik PT. Perhutani pada waktu itu. Hal ini memang sudah menjadi kesepakatan antara penduduk dengan perhutani bahwa mereka boleh mengolah tanah milik PT. Perhutani asalkan masyarakat tidak menebang pohon dan memburu satwa di hutan. Namun kami pernah melihat ada yang menebang pohon. Menurut penuturan penduduk, mereka menebang pohon untuk membangun rumah dan sebagian digunakan untuk kayu bakar.

Fenomena serupa juga kami lihat di kawasan Gunung Halimun. Akan tetapi masyarakat di daerah ini mempunyai tatakehidupan yang lebih teratur menurut saya. Ada beberapa perkampungan yang berada di tengah-tengah pengunungan Halimun yang lebih terkenal dengan Kasepuhan Adat Banten Kidul. Masyarakat tunduk pada peraturan adat yang dipimpin oleh seorang Abah (Ketua Adat didaerah itu). Atap rumah tidak boleh terbuat dari tanah. menurut kepercayaan kasepuhan, orang yang tidur di bawah tanah laksana orang yang sudah meninggal. Begitu pula peraturan mengenai pemanfaatan sumberdaya alam seperti berburu, menanam, dan menebang pohon. dalam pertanian, waktu penanaman (khususnya padi) didasarkan atas perintah Sang Abah. Pada waktu panen setiap keluarga harus menyumbangkan sepocong (satu pocong = satu ikat padi kira2 3 liter) padi untuk disimpan di Leuit Si Jimat (Leuit = lumbung padi, Leuit Si Jimat = Leuit di kasepuhan untuk persediaan padi untuk persedian masa paceklik). selain itu mereka juga diperintahkan untuk menyimpan sebagian hasil panen ke dalam leuit di rumah masing-masing. Menurut Abah, hal ini bertujuan agar bila musim kemarau tiba penduduk tidak kekurangan beras. selain itu juga bisa digunakan untuk persediaan bibit pada waktu musim tanam tiba. untuk memperingati masa panen diadakan pesta yang berlangsung di kasepuhan selama tujuh hari tujuh malam. selain bertani masyarakat kasepuhan juga beternak unggas, domba, ikan kerbau dan lain-lain. khusus untuk padi tidak boleh diperjual belikan. Jika peraturan-peraturan tersebut dilanggar maka sangsi yang diberikan adalah dikeluarkan dari kasepuhan. konon warga Abah Ucup (kasepuhan Ciptagelar) meliputi wilayah Bogor, Banten, dan Sukabumi.

Pada tahun 2003 Kawasan Gunung Halimun-Salak ditetapkan menjadi Taman Nasional melalui SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/200. Perubahan status kawasan eks Perhutani menjadi kawasan konservasi membawa dampak tersendiri bagi masyarakat sekitar kawasan. Timbul persepsi dari masyarakat bahwa Taman Nasional berarti pembatasan akses mereka terhadap hutan. hal ini terlihat dari pernyataan beberapa penduduk yang secara kebetulan kami temui. Mereka ketakutan ketika mengambil kayu bakar di kawasan saat melihat petugas Taman Nasional.

Sampai saat ini batasan Taman Nasional Halimun Salak yang saya tahu belum jelas adanya. Pada saat di Tapos (dalam bulan ini) saya bertemu dengan petugas Taman Nasional di rumah Bapak Otang (salah seorang warga kampung Tapos). Saya sempat bertanya mengenai batasan taman nasional. Jawaban dari Petugas, saat ini sedang dalam proses penetapan.

Saat itu di Kampung Tapos akan ada pertemuan antara masyarakat tapos dengan pihak Taman Nasional yang membahas tentang perencanaan contoh kampung konservasi yang akan di laksanakan tahun ini. kebetulan saya dan beberapa temen dari lawalalata sedang beristirahat di rumah Bapak Otang setelah dua hari berkegiatan di hutan. Bapak Otang cerita kepada kami bahwa malam itu jam 7 malam akan ada pertemuan dengan taman nasional. Kami diperlihatkan surat undangan dari pihak Taman Nasional. Setalah membaca surat undang tersebut kami tahu bahwa malam nanti akan ada pembahasan tentang model kampung konservasi di Tapos. Dengan nada yang serius Bpk. Otang mengatakan “jika kami dilarang, pasti akan panas dan di kampung ini akan tidak aman”. katanya malam ini akan membicarakan tentang MoU mengenai pengelolaan lahan. beliau sempat meminta kami untuk ikut dalam pertemuan itu. berhubung kondisi kami pada waktu itu capek, maka hanya perwakilan dari lawalata-ipb satu orang. hari berikutnya saya mendengar bahwa perbincangan tersebut belum menghasilkan sebuah kesepakatan. sampai saat ini saya belum tahu perkembangan dari masalah ini.

Kasus tentang konflik antara masyarakat dengan Taman Nasional juga terjadi beberapa tempat sepertidi TN. Merapi, kasus dongi-dongi di Lore Rindu, Pulau Komodo NTT. Ketidakharmonisan ini terjadi mungkin karena belum ada kesepahaman dari kedua belah pihak. Saya melihat ini sebagai konflik kepentingan. Dimana tidak akan pernah selesai jika kedua belah pihak saling egois. Taman Nasional berusaha untuk menjaga kawasan dari deforestasi sedangkan masyarakat butuh makan untuk melangsungkan kehidupannya.