Momentum Hari Air Sedunia dimanfaatkan beberapa lembaga untuk mengusung isu tentang krisis air. Jawa Pos, Selasa 24 Maret Menyebutkan “Dalam peringatan World Water Day tahun ini, PBB mengusung tema transboundary waters, shared water, shared oportunities“. Sedemikian parahkah, sampai-sampai terkesan air sulit untuk didapatkan?. Bukankah 2/3 bumi kita ini terdiri dari air? Lalu kenapa sampai terjadi krisis air?
Kualitas air
Permasalah air yang terjadi selama ini adalah menurunnya kualitas air untuk kebutuhan hidup manusia. Dalam Effendi 2003, menyebutkan bahwa kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain dalam air. Kualitas air dinyatakan dalam beberapa parameter, yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi. Dari parameter-parameter tersebut kemudian di dapat ditentukan golongan air menurut peruntukannya. Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990, membagi golongan air menurut peruntukannya menjadi 4;
1. Golongan A, Yaitu air dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. Artinya dianjurkan untuk dimasak terlebih dahulu.
3. Golongan C, Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air.
Siklus Hidrologi
Secara kuantitas, air di bumi ini tidak berkurang. Bahkan air sangat melimpah-ruah. Secara teori air menutupi hampir 70 persen permukaan bumi, bahkan di Indonesia wilayhnya terdiri dari 2/3 air. Senyawa kimia ini terdapat dalam berbagai bentuk tentunya, misalnya uap air, es, cairan dan salju.
Berdasarkan jenisnya, air terbagi menjadi 2 yaitu air tawar dan air asin (laut). Air tawar terdapat dalam daratan yang tertampung dalam badan-badan air seperti sungai, danau, air tanah, dan gunung es. Sedangkan air asin biasanya terdapat dilautan. Selain itu di atmosfer (udara) terdapat juga air dalam bentuk uap air. Jika dilihat secara keseluruhan ruang tersebut (daratan, laut, dan atmosfer) akan bisa terlihat siklus hidrologi / siklus air / perputaran air yang berlangsung secara kontinyu. Secara sederhana, siklus atau perputaran tersebut dapat digambarkan sebagai berikut;
Air daratan, mengalir ke laut melalui arus run off / menggelontor diatas permukaan dan meresap melalui tanah (air tanah). Yang tersimpan dalam badan air dan organisme, makhluk hidup menguap ke atmosfer, begitu juga dengan air yang berada di lautan. Jika uap air ini berkumpul dalam satu lokasi di atmosfer (yang sering kita lihat ketika mendung), ada kemungkinan akan terjadi hujan. Artinya air kembali lagi ke bumi (baik ke daratan maupun laut). Jadi secara secara fisik air tidak akan berkurang di bumi ini.
Krisis air
Kondisi permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini adalah; kuantitas yang cenderung tidak dapat memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Artinya bukan kuantitas airnya, akan tetapi kuantitas air yang digunakan untuk keperluan domestik yang berkurang. Kualitas air yang layak pun semakin langka di dapatkan. populasi manusia yang terus meningkat, dan sumberdaya alam yang terbatas sehingga ruang hidup (nice) juga semakin berkurang. Dampak dari kondisi ini terhadap sumberdaya air sangat signifikan. Jika lahan, yang menjadi penyimpan air di bumi ini di hambat oleh kegiatan manusia maka otomatis siklus air akan sangat cepat berlangsung. belum lagi di tambah dengan pencemaran yang semakin hari semakin meningkat bebannya.
Mungkin dahulu manusia sangat mudah mendapatkan air untukkebutuhan mereka. selain populasi yang masih sedikit, sumber-sumber air juga masih banyak. Tapi sekarang semua itu sebagian besar telah di sulap menjadi bangunan yang megah.
Meningkatnya populasi manusia memang menjadikan sumberdaya alam di bumi ini menjadi terbatas. Sehingga jika sudah mencapai puncaknya nanti, akan ada seleksi alam terhadap populasi manusia itu sendiri.
Yang dapat kita lakukan adalah memperlambat proses itu. Memanfaatkan sumberdaya sesuai dengan batas kebutuhan, bukan hanya mengejar keinginan atau nafsu belaka. Berkelanjutan dalam artian memenuhi kebutuhan tanpa menghilangkan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. selain menghemat, tentunya hal yang tidak kalah pentingya adalah menjaga sumber-sumber air. Kehancuran itu pasti akan terjadi di dunia ini, kita tidak dapa mencegah melainkan hanya bisa memperlambat proses kehancuran itu sendiri.
harapannya kita dapat menggunakan sumberdaya alam khususnya air secara bijak dan bertanggung jawab. Bukan hanya untuk kita tapi untuk kemaslahatan umat manusia dari generasi ke generasi.

Taman Nasional Gunung Halimun-Salak mejadi pilihan bagi kami untuk berlatih dan meningkatkan pengetahuan Ke-Pecintaalaman. Selain itu beberapa lokasi di Taman Nasional yang memperluas wilayahnya pada tahun 2003 ini, dapat menghilangkan penat kami setelah 5 hari otak kami di jejali dengan bermacam rumus dan teori di bangku kuliah. Selain lokasinya yang dekat dengan kampus IPB Darmaga, tipe medan yang bervariatif menjadi alasan utama kita untuk mempraktekkan Tehnik Hidup Alam Bebas.
Pengunungan Halimun relatif landai namun banyak pilihan jalur serta pemandangan yang indah. Dari Nanggung kita dapat melihat perkebunan teh milik PT. Nirmalasari, hamparan sawah yang menghiasi perbukitan, perkampungan/ kasepuhan banten kidul, serta sensasi hutan hujan tropis yang selalu lembab. Sedangkan Gunung Salak 1 dan Salak 2 bermedan terjal, menantang, dan berhutan lebat. Karenanya kami rasa kedua kawasan ini cocok untuk latihan tracking, survival, Search And Rescue (SAR), Navigasi Darat, dan pengamatan flora fauna.